Tabrakan Ideologis: Mengapa Visi Global JD Vance Runtuh di Bawah Trumpisme

7

Wakil Presiden JD Vance baru-baru ini mengalami serangkaian kemunduran diplomatik yang signifikan yang menimbulkan pertanyaan mendesak tentang kemampuannya dalam membentuk kebijakan luar negeri yang berbeda. Menyusul kegagalan upaya untuk mendukung Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán dan gagalnya proses negosiasi dengan Iran—diperparah dengan pengumuman Presiden Trump mengenai blokade baru di Selat Hormuz—tampaknya visi geopolitik khusus Vance secara sistematis dibongkar oleh pemerintahan yang ia layani.

Visi Pascaliberal: Jenis Politik Sayap Kanan yang Berbeda

Untuk memahami mengapa kegagalan ini penting, kita harus memahami ideologi yang diwakili Vance: postliberalisme. Berbeda dengan kaum konservatif tradisional, kaum postliberal seperti Vance memandang ancaman utama terhadap masyarakat adalah liberalisme modern itu sendiri—khususnya fokusnya pada hak-hak individu dan kemajuan sosial yang didorong oleh pasar.

Kebijakan luar negeri Vance dirancang untuk menjadi alat proyek ideologis ini. Tujuannya ada dua:
1. Memberdayakan Kelompok Kanan Jauh di Eropa: Daripada melakukan diplomasi tradisional, Vance berusaha bertindak sebagai pelindung bagi partai-partai nasionalis Eropa, dan memandang mereka sebagai sekutu dalam perjuangan memulihkan “kepercayaan diri peradaban” di benua tersebut.
2. Mengurangi Adventurisme Militer: Ia bertujuan untuk menjauhkan AS dari konflik Timur Tengah, dan fokus pada pembaruan spiritual dan moral internal melalui pendekatan nasionalis yang lebih terkendali.

Vance memandang Hongaria di bawah kepemimpinan Viktor Orbán sebagai cetak biru tatanan baru ini—sebuah negara di mana pemerintah secara aktif membentuk karakter moral warganya melalui tradisionalisme agama dan sosial.

Faktor Trump: Naluri Atas Ideologi

Pertentangan mendasar terletak pada kenyataan bahwa meskipun Trump dan Vance adalah nasionalis sayap kanan, metode mereka pada dasarnya bertentangan.

Pascaliberalisme didorong oleh kerangka intelektual yang terstruktur, meskipun radikal. Trumpisme, sebaliknya, didorong oleh dorongan pribadi dan naluri yang tidak dapat diprediksi. Perbedaan ini telah menyebabkan benturan langsung dalam dua situasi kritis:

1. Fraktur Eropa

Upaya Vance untuk membangun “nasionalis internasional” di Eropa dirusak oleh tindakan Trump yang tidak dapat diprediksi. Kebijakan seperti tarif yang agresif dan proposal kontroversial untuk mencaplok Greenland telah mengubah Trump menjadi sosok yang “beracun” bagi banyak populis Eropa. Para pemimpin Partai Nasional Perancis hingga AfD Jerman, yang didukung oleh Vance, semakin terpaksa menjauhkan diri dari Washington demi melindungi kepentingan nasional mereka sendiri.

2. Eskalasi Timur Tengah

Meskipun Vance berusaha menampilkan gambaran “merpati” yang mencari stabilitas, kebijakan luar negeri Trump cenderung mengarah pada konflik dengan intensitas tinggi. Mulai dari pemboman situs nuklir Iran hingga blokade maritim baru-baru ini, sikap agresif pemerintah AS secara langsung bertentangan dengan tujuan pascaliberal untuk menarik diri dari keterikatan di Timur Tengah.

Dilema Wakil Presiden

Hal ini menciptakan jebakan politik yang mendalam bagi Vance. Sebagai seorang Senator, dia bisa saja mengkritik pemerintahan dari pinggir lapangan. Namun, sebagai Wakil Presiden, ia terkait erat dengan hasil-hasil ini.

Karena ia adalah arsitek utama upaya menjangkau kelompok sayap kanan Eropa dan negosiator utama diplomasi Iran, kegagalan misi-misi ini dipandang sebagai kegagalannya sendiri. Dia saat ini terjebak dalam siklus di mana:
– Upaya diplomasinya menghasilkan hasil yang tidak populer atau gagal.
– Tindakan bosnya mengasingkan sekutu Vance perlu mewujudkan visinya.
– Dia dipaksa untuk mempertahankan rekor yang bertentangan dengan prinsip yang dia nyatakan.

“Pemerintahan Trump saat ini bersifat racun bagi sebagian besar partai sayap kanan di Eropa,” ujar Cas Mudde, pakar sayap kanan Eropa.

Kesimpulan

JD Vance berusaha menggunakan gerakan MAGA sebagai wahana ideologi pascaliberal tertentu, namun ia menemukan bahwa wahana tersebut didorong oleh dorongan Donald Trump yang tidak dapat diprediksi dan bukan oleh program politik yang kohesif. Akibatnya, Vance menghadapi tugas sulit untuk menavigasi identitas politik yang secara aktif dihapuskan oleh pemerintahan yang ia layani.