Tingginya Biaya Listrik: Mengapa Permintaan Pusat Data Membuat Biaya Gas Alam Melonjak

14

Perlombaan untuk mendorong revolusi kecerdasan buatan menghadapi hambatan ekonomi yang signifikan. Ketika raksasa teknologi seperti Microsoft dan Meta beralih ke gas alam untuk memberi daya pada pusat data mereka yang besar, biaya pembangunan infrastruktur yang diperlukan pun meroket.

Menurut laporan terbaru dari BloombergNEF, harga pembangunan pembangkit listrik baru turbin gas siklus gabungan (CCGT) telah melonjak sebesar 66% selama dua tahun terakhir.

Meningkatnya Harga Infrastruktur

Meskipun harga gas alam di Amerika Serikat relatif stabil, modal yang diperlukan untuk membangun fasilitas pembangkit listrik telah meningkat tajam. Pada tahun 2023, biaya pembangunan pabrik baru berada di bawah $1.500 per kilowatt kapasitas; pada tahun lalu, angka tersebut meningkat menjadi $2.157.

Ketegangan finansial ini diperparah dengan penundaan yang signifikan. Saat ini dibutuhkan waktu 23% lebih lama untuk menyelesaikan fasilitas baru dibandingkan sebelumnya, sehingga menciptakan hambatan bagi perusahaan yang sangat ingin mendapatkan energi yang andal.

“Efek AI” terhadap Permintaan Listrik

Pendorong utama di balik perubahan ini adalah skala pusat data modern yang belum pernah terjadi sebelumnya. Industri ini sedang mengalami transformasi besar-besaran dalam hal ukuran dan kebutuhan energi:

  • Pertumbuhan Eksplosif: Permintaan listrik dari pusat data baru diproyeksikan meningkat dari 40 gigawatt saat ini menjadi 106 gigawatt pada tahun 2035 —meningkat hampir tiga kali lipat.
  • Peningkatan: Saat ini, hanya 10% fasilitas pusat data yang berkapasitas 50 megawatt atau lebih besar. Namun, dalam dekade berikutnya, rata-rata industri diperkirakan akan melebihi 100 megawatt.
  • Pergeseran Strategi: Walaupun perusahaan-perusahaan teknologi secara historis mengandalkan energi terbarukan melalui perjanjian pembelian listrik (angin, tenaga surya, dan baterai), besarnya jumlah energi yang dibutuhkan oleh AI memaksa mereka untuk bergerak menuju keandalan gas alam yang “selalu aktif” dan konstan.

Krisis Rantai Pasokan: Kekurangan Turbin

Ketergesaan dalam membangun pembangkit listrik tenaga gas telah memicu kekurangan komponen yang paling penting: turbin gas.

Karena turbin dapat menyumbang hingga 30% dari total biaya pembangkit listrik, ketidakstabilan harga turbin merupakan faktor utama dalam kenaikan biaya secara keseluruhan. Pada akhir tahun ini, harga turbin diperkirakan akan 195% lebih tinggi dibandingkan harga pada tahun 2019.

Masalahnya bukan hanya biaya, tapi kapasitas. Proses manufaktur khusus yang diperlukan untuk turbin ini tidak dapat ditingkatkan dengan cepat, sehingga menyebabkan penumpukan (backlog) dalam jumlah besar. Akibatnya, banyak perusahaan menghadapi daftar tunggu yang berlangsung hingga awal tahun 2030-an.

Gesekan Sosial dan Peraturan

Perebutan energi ini menciptakan ketegangan di luar ruang rapat. Ketika perusahaan utilitas kesulitan memenuhi permintaan, mereka sering kali membebankan biaya pembangkit listrik baru kepada masyarakat umum. Hal ini telah memicu reaksi negatif terhadap pusat data, karena warga khawatir akan kenaikan tagihan listrik dan dampak lingkungan dari meningkatnya ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Selain itu, terdapat peningkatan tekanan politik terhadap sektor ini. Pemerintahan saat ini telah mendorong operator pusat data untuk “membawa listrik mereka sendiri,” sebuah langkah yang dimaksudkan untuk melindungi jaringan listrik yang ada dari beban besar yang dibutuhkan oleh AI.

Transisi ke komputasi berbasis AI menciptakan lingkaran paradoks: semakin besar skala industri, semakin mahal dan sulit menyediakan energi yang dibutuhkan untuk menjalankannya.

Singkatnya, perpotongan antara pertumbuhan AI dan keterbatasan infrastruktur energi menciptakan hambatan rantai pasokan, menaikkan biaya bagi pengembang dan berpotensi membebankan biaya tersebut ke masyarakat luas.