Dari Hypergrowth hingga Pelajaran Sulit: Bagaimana Anjuna Security Menavigasi PHK dan Membangun Kembali

13

Pada tahun 2021, Anjuna Security adalah contoh buku teks tentang pertumbuhan pesat startup. Perusahaan keamanan siber yang didukung ventura ini melakukan perekrutan secara agresif, meningkatkan jumlah tim penjualan dan dukungannya menjadi hampir 75 karyawan, dan bersiap menghadapi pasar yang tampaknya tidak memiliki batasan.

Namun, lanskap ekonomi tiba-tiba berubah pada tahun 2022. Ketika penjualan perusahaan melambat dan modal semakin sulit diperoleh, Anjuna mendapati dirinya kewalahan. Perusahaan ini terpaksa menjalani dua kali PHK secara terpisah untuk menstabilkan keuangannya—sebuah percobaan yang membuat banyak startup gagal bertahan.

Anatomi Krisis

Transisi dari ekspansi yang cepat ke kontraksi yang tiba-tiba adalah periode yang berbahaya bagi startup mana pun. Bagi Anjuna, tantangannya ada dua: mengelola kebutuhan finansial yang mendesak untuk memangkas biaya dan mengatasi dampak psikologis terhadap tenaga kerja yang tersisa.

Ketika sebuah perusahaan mengalami PHK berkali-kali, perusahaan tersebut berisiko memasuki “spiral kematian” moral. Karyawan sering kali berhenti berinovasi dan malah berfokus pada mempertahankan diri, karena takut merekalah yang berikutnya. Untuk mengatasi hal ini, CEO dan salah satu pendiri Ayal Yogev memprioritaskan strategi yang berpusat pada transparansi dan keterusterangan.

Membangun Budaya “Peduli”

Menurut Yogev, kemampuan Anjuna bertahan di bulan-bulan penuh gejolak ini berakar pada budaya yang dibangun sebelum krisis melanda. Daripada mengandalkan nilai-nilai perusahaan yang abstrak, perusahaan berfokus pada satu prinsip yang dapat ditindaklanjuti: kepedulian.

Prinsip ini diterapkan dalam dua cara berbeda:

  • Perawatan Eksternal (Staf Pendukung yang Berangkat): Daripada hanya memutuskan hubungan, Anjuna membantu karyawan yang keluar dengan memanfaatkan jaringan investor untuk menemukan peran baru bagi mereka dan memastikan akses berkelanjutan terhadap manfaat penting seperti layanan kesehatan.
  • Perawatan Internal (Mengelola Tim yang Tersisa): Kepemimpinan menghindari “jebakan diam”. Dengan mengkomunikasikan secara jelas tentang mengapa keputusan diambil dan bertindak cepat untuk mengatasi ketidakpastian, mereka mencegah kecemasan berkepanjangan yang seringkali menghancurkan kepercayaan perusahaan.

Menghindari Jebakan Menyalahkan

Salah satu wawasan paling signifikan dari pemulihan Anjuna adalah perbedaan antara budaya menyalahkan dan budaya belajar.

“Perusahaan terburuk mencari seseorang untuk disalahkan… hal ini menciptakan budaya di mana orang-orang hanya berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. Hal ini sepenuhnya kontraproduktif.” — Ayal Yogev

Ketika kesalahan terjadi—seperti perekrutan berlebihan pada periode pertumbuhan yang dirasakan tidak terbatas—naluri di banyak organisasi adalah mencari kambing hitam. Hal ini mengarah pada lingkungan “berbasis rasa takut” di mana karyawan menyembunyikan kesalahan untuk melindungi diri mereka sendiri. Anjuna malah berfokus pada analisis kesalahan struktural untuk memastikan kesalahan tersebut tidak terulang kembali, sehingga menciptakan lingkungan di mana tim dapat berfokus pada solusi dibandingkan saling menyalahkan.

Cetak Biru Baru untuk Pertumbuhan

Saat ini, Anjuna tampil dengan model operasional yang lebih disiplin. Perusahaan telah beralih dari “pertumbuhan dengan segala cara” menuju kerangka kerja yang lebih berkelanjutan:

  1. Perekrutan yang Disengaja: Perekrutan kini dikaitkan dengan kebutuhan spesifik dan terbukti, bukan permintaan spekulatif di masa depan.
  2. Penjualan Berdasarkan Permintaan: Pertumbuhan sangat selaras dengan sinyal pasar sebenarnya.
  3. Efisiensi melalui Teknologi: Tim ini memanfaatkan alat-alat baru, termasuk AI, untuk meningkatkan produktivitas tanpa perlu penambahan jumlah karyawan secara besar-besaran.

Kesimpulan
Perjalanan Anjuna menyoroti bahwa meskipun stabilitas keuangan sangat penting, kelangsungan hidup perusahaan selama krisis sangat bergantung pada landasan budayanya. Dengan memprioritaskan transparansi radikal dan pola pikir yang berorientasi pada pembelajaran, para pendiri dapat mengubah masa krisis menjadi landasan bagi pertumbuhan yang lebih berketahanan dan berkelanjutan.