Thiel Memperingatkan “Antikristus” di Tengah Serangan Balik Vatikan

13

Miliarder teknologi Peter Thiel menyuarakan kekhawatiran tentang akan datangnya tokoh “Antikristus”, yang memicu kontroversi di dalam Gereja Katolik Roma. Selama berbulan-bulan, Thiel secara terbuka menyuarakan ketakutannya yang berakar pada nubuatan alkitabiah, dan memperkirakan akan ada pemimpin yang akan mengeksploitasi kekhawatiran akan ancaman nyata—seperti perang nuklir, perubahan iklim, dan kecerdasan buatan—untuk membentuk rezim totaliter global.

Peringatan Thiel kini menuai kritik tajam dari para teolog Katolik saat ia menyampaikan pandangannya di Roma. Dia menyampaikan serangkaian ceramah minggu ini, yang dipandu oleh kelompok Kristen konservatif, yang menunjukkan bahwa “kekuatan gaib” secara aktif berupaya melemahkan peradaban Barat. Ceramah tersebut, yang dimulai pada hari Minggu, langsung mendapat penolakan.

Salah satu penasihat Vatikan, Pendeta Paolo Benanti, menyebut visi Thiel “mengganggu” dalam sebuah esai baru-baru ini yang berjudul “Bidat Amerika: Haruskah kita membakar Peter Thiel?” Intensitas tanggapannya sangat berbeda dengan reaksi yang relatif tenang terhadap ceramah serupa di San Francisco dan Paris awal tahun ini. Kedekatan ceramah tersebut dengan Vatikan tampaknya telah mendorong para komentator Katolik Roma untuk lebih vokal menentangnya.

Mengapa hal ini penting: Peringatan Thiel menjawab kekhawatiran yang ada mengenai pesatnya kemajuan teknologi dan potensi ketidakstabilan geopolitik. Fokusnya pada sosok “Antikristus” yang terpusat dan berkuasa sejalan dengan ketakutan akan kekuasaan yang tidak terkendali, baik dari pemerintah maupun perusahaan. Tanggapan Vatikan menyoroti perdebatan yang sedang berlangsung dalam pemikiran Kristen tentang bagaimana menafsirkan nubuatan apokaliptik dalam konteks modern.

Perdebatan mengenai klaim Thiel juga menimbulkan pertanyaan tentang persinggungan antara keyakinan, teknologi, dan ideologi politik. Peringatan-peringatannya, yang dibingkai dalam istilah-istilah keagamaan, mungkin menarik bagi kelompok konservatif tertentu, namun mengasingkan kelompok lain. Kontroversi ini menunjukkan bahwa bahkan di dalam institusi keagamaan yang sudah mapan, tidak ada konsensus mengenai cara mengatasi permasalahan kompleks ini.

Pada akhirnya, peringatan Thiel dan reaksi balik yang diakibatkannya menggarisbawahi ketegangan yang lebih luas antara kemajuan teknologi, keyakinan spiritual, dan pencarian makna di dunia yang tidak pasti.