Kekacauan Cinta yang Tak Terelakkan: Mengapa Ambivalensi Itu Normal

13

Kebanyakan hubungan bukanlah dongeng. Itu adalah perpaduan antara saat-saat indah dan frustrasi, ketertarikan dan gangguan, kedekatan dan jarak. Penelitian menegaskan apa yang sudah diketahui banyak pasangan: hampir separuh dari semua hubungan bersifat ambivalen – artinya perasaan campur aduk, tidak sepenuhnya positif. Sebuah penelitian terhadap pasangan yang sudah lama menikah menemukan bahwa 60% merasa ambivalen terhadap pasangannya. Ini bukanlah tanda kegagalan; itu adalah bagian alami dari keintiman jangka panjang.

Mengapa Ambivalensi Penting

Ambivalensi bukan hanya keadaan emosional; ini memiliki efek fisiologis. Berinteraksi dengan seseorang yang menimbulkan perasaan campur aduk meningkatkan tekanan darah, dan ambivalensi kronis bahkan dapat menyebabkan pengerasan arteri. Inilah mengapa mengabaikan perasaan campur aduk itu berbahaya. Hal ini tidak berarti bahwa hubungan tersebut akan hancur, namun berpura-pura bahwa segala sesuatunya sempurna menutupi kenyataan yang dapat membahayakan kesehatan mental dan fisik.

Siklus Perasaan Campur aduk

Banyak pasangan jatuh ke dalam pola ketertarikan dan penghindaran. Salah satu pasangan mungkin menarik diri, lalu kembali lagi ketika pasangannya mulai menjauhkan diri, sehingga menciptakan siklus yang tidak menentu. Hal ini belum tentu beracun, namun tidak berkelanjutan jika tidak ditangani. Ambivalensi sering kali muncul selama transisi besar dalam hidup – tinggal bersama, memiliki anak, atau membuat keputusan besar lainnya. Peristiwa ini memaksa pasangan untuk menghadapi pro dan kontra dari komitmen mereka.

Kelebihan dari Ketidakpastian

Meskipun tidak nyaman, ambivalensi dapat bersifat konstruktif. Hal ini memotivasi pasangan untuk meningkatkan komunikasi, menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas bersama, atau mengevaluasi kembali prioritas mereka. Mengenali perasaan campur aduk menandakan kematangan emosional – kemampuan untuk menerima kekurangan pasangan di samping kelebihannya. Kejujuran ini dapat mengarah pada hubungan yang lebih dalam, namun hanya jika kedua belah pihak bersedia menghadapi kenyataan pahit.

Cara Mengatasi Perasaan Campur aduk

Langkah pertama adalah kesadaran diri. Identifikasi apa yang menyebabkan ambivalensi. Apakah karena kebutuhan yang belum terpenuhi, konflik yang belum terselesaikan, atau sekadar kesadaran bahwa hubungan telah berubah? Komunikasikan perasaan ini secara langsung, tetapi hindari bahasa yang menuduh. Daripada mengatakan, “Kamu tidak pernah menghabiskan waktu bersamaku,” cobalah, “Aku rindu kita dulu menonton acara bersama. Bisakah kita menjadikannya prioritas lagi?”

Kapan Harus Pergi

Tidak semua hubungan ambivalen layak untuk diselamatkan. Jika terjadi pelecehan, rasa tidak hormat, atau ketidakjujuran kronis, mengakhiri hubungan adalah pilihan yang paling sehat. Namun dalam hubungan yang tidak fungsional, ambivalensi dapat menjadi katalisator pertumbuhan. Dengan mengakui kekacauan ini, pasangan dapat membangun ikatan yang lebih kuat dan menciptakan keintiman yang lebih berkelanjutan.

Pada akhirnya, menerima ambivalensi berarti merangkul seluruh spektrum emosi manusia. Cinta tidak selalu mudah; sering kali bertentangan, membuat frustrasi, dan tidak sempurna. Namun mengakui kenyataan ini adalah kunci untuk membangun hubungan yang langgeng dan bermakna.

Kisah Leigh dan Thomas menggambarkan hal ini. Meskipun ada hubungan yang tulus, pola penghindaran dan rekonsiliasi mereka akhirnya terhenti ketika Thomas tiba-tiba mengubah arah komitmen besarnya. Patah hati itu bukan karena kurangnya cinta, tapi karena kegagalan mengatasi ambivalensi yang mendasarinya. Terkadang, membangun kembali tidak mungkin dilakukan, dan satu-satunya pilihan adalah melanjutkan.